HIDUPKAN HALAQAH MU!

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Shaff: 4)

“Kebenaran yang tidak bersatu dengan rapi, akan mudah dikalahkan oleh kebathilan yang bersatu dengan baik”. (Sayyidina Ali Bin Abi Thalib)

Bahasa bersatu itu adalah seuntai kata yang selalu saling memotivasi, yang selalu saling menginspirasi yang selalu saling menghidupkan. Saling menguatkan bukan melemahkan, saling mengokohkan bukan mengerdilkan, dan saling mengingatkan bukan melupakan. Kerana itu ikhwah fillah…”Hidupkan Halaqahmu…!”

Halaqah tarbiyah adalah sumber energi bagi dai-dai ilallah. Tempat para pendakwah di jalan Allah menyerap energi ruhi untuk kemudian menyalurkan atau memantulkan kembali cahayanya ke tengah-tengah masyarakat dalam bentuk keteladanan akhlak, seruan kebaikan, dan pencegahan terhadap berbagai kemungkaran.

Halaqah tarbawi adalah kumpulan orang-orang shalih yang mereka itu bak lampu-lampu penerang di setiap rumah, bangunan, disetiap taman-taman, dan dipinggir-pinggir jalan, bertebaran di berbagai titik dan sudut guna menerangi alam saat kegelapan malam. Dan, halaqahnya itu sendiri bak penjana elektrik, pusat energi, pusat kekuatan maknawi. Sebagaimana penjana elektrik, ia menerima dan menyimpan energi elektrik yang disalurkan dari penjana induknya. Sehinggalah jumlah energi yang cukup untuk mencukupi keperluan elektrik di lingkungan sekitarnya, baik untuk keperluan penerangan di malam hari atau keperluan lainnya yang memerlukan solusi elektrik.

Dan, seorang akh dalam halaqah adalah bola-bola lampunya, yang menerima dan menyerap energi elektrik dari penjana elektrik yang terpasang itu, untuk menerangi kehidupan masyarakat. Seorang akh adalah bola-bola lampu yang menerangi pekat kelamnya kehidupan, mengubah kondisi yang bergelimang kejahiliyahan menjadi masyarakat berperadaban, dan menghancurkan perilaku kemungkaran untuk membawa manusia pada kemuliaan akhlak dan tinggi budi pekerti.

Seorang akh hadir ditengah-tengah masyarakatnya membawa hati yang hidup, hati yang menyala dan memotivasi, hati yang menyentuh hati para objek dakwahnya dengan sentuhan yang lembut, mencerahkan, dan memberikan kemanfaatan yang luar biasa. Hingga masyarakat menjadi bercahaya, nampak baginya mana yang haq mana yang bathil, terang baginya mana yang baik mana yang buruk, dan jelas baginya mana yang harus diikuti mana yang harus ditinggalkan. Pendek kata ummat ini menjadi tercerahkan dan terperbaiki semua sisi kehidupannya.

Kerananya, bagi dai ilallah, halaqah adalah sebuah keniscayaan. Sebuah upaya bagi seorang dai untuk tidak terjebak dalam gelimang dakwah infiradhi. Sebuah penjagaan diri seorang dai untuk tidak terjerumus dalam zona nyaman dakwah dalam kesendirian. Sebuah ikhtiar bagi seorang dai untuk tidak terbius dengan ikon dai selebritis, dakwah ber-euforia ketenaran, dakwah penuh hiburan duniawi, dan tenggelam dalam popularitas berlebihan. Sebuah upaya melindungi diri untuk terjauh dari sikap ujub (kebanggaan) dan terpukau tepukan dari pengagumnya. Inilah sebuah cara bagi seorang dai ilallah untuk senantiasa menjaga keikhlasan, kesabaran, keistiqomahan, dan ketawakkalan pada-Nya.

Mengapa halaqah tarbiyah?

Pertama, perlunya kesatuan hati. Disinilah hati-hati berhimpun atas dasar cinta terhadap-Nya, hati-hati yang bertemu atas ketaatan kepada-Nya, hati-hati yang bersatu untuk bersama-sama memikul beban dakwah-Nya, dan hati-hati yang mengikat kesetiaan meninggikan syariat-Nya. Inilah hati seorang dai ilallah yang terjaga dan senantiasa dijaga oleh Allah SWT. Kesatuan hati amat sangat diperlukan bagi setiap dai, secara maknawi dalam rangka menyegarkan dan menguatkan kembali pemaknaan dakwah dalam konsep diri yang utuh dalam dirinya. Bahwa aktifitas dakwah harus senantiasa berorientasi Rabbani. Bahwa aktifitas dakwah harus jauh-jauh meninggalkan segala kepentingan dan keuntungan duniawi, apapun bentuk dan wujudnya.

Kedua, pembaikan ruhi. Dalam halaqah, bersatunya jiwa-jiwa yang mengorientasi Rabbani, jiwa-jiwa yang mengikuti tarikan Ilahi, jiwa-jiwa yang bening, bersih, dan jernih, dan jiwa-jiwa yang suci dan saling menyucikan. Kebersihan dan kekuatan jiwa seorang dai amat minim untuk bisa diupayakan sendiri. Kekuatan itu akan muncul dalam sinergi dakwah antar dai dalam bentuk kebersamaan. Termasuk kebersamaan dalam membangun dan menghadirkan quwwatul ruhi. Ruh yang bagus dan kuat bak mobil baru dengan mesin barunya, mesin menjadi faktor dan pendorong utama lancar dan bergeraknya sebuah mobil untuk mencapai tujuannya. Begitu pula dakwah, tujuannya mulianya hanya akan dapat tercapai dan dicapai melalui dorongan ruhiyah yang kuat dan bersih.

Ketiga, pembaikan fikri. Saling berbagi ilmu, saling menambah pengetahuan, saling memperdalam pemahaman, saling membangun kesepahaman, saling memberi hikmah, saling menyiram petuah, dan saling menyebar ‘itibar. Kita akui sebagai dai kita masih banyak kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan. Utamanya kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan dalam ilmu, pengetahuan, dan pemahaman Dinul Islam dan dunia keislaman, sehingga terkadang ada masa dimana lisan ini kelu, membisu, dan tak mampu melahirkan kata-kata penuh hikmah, kata-kata penuh makna, petuah-petuah yang menggugah, atau ‘itibar yang menyadarkan objek dakwah. Disini kemudian wadah halaqah menjadi penting bagi seorang dai, untuk saling memberi ilmu, saling berbagi pengetahuan, saling menukar pengalaman, dan saling sharing informasi yang shohih dan berharga.

Keempat, kesatuan jasadi. Wajah-wajah yang merindu untuk selalu bertemu, bertemu saling meningkatkan keimanan, bertemu saling memperbaiki ketaatan, dan bertemu saling melipatgandakan ketaqwaan. Seorang mukmin yang baik adalah mukmin yang jika kita bertemu dengannya maka meningkatlah iman kita, bertambahlah ketaatan kita, dan semakin kuatlah ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Tak ayal, perjumpaan antara dai secara rutin dan intens sangat-sangat diperlukan. Dengan perjumpaan itu kita akan saling memperbaiki dan meningkatkan kapasitas diri dalam berbagai dimensi, khususnya peningkatan kapasitas diri dalam hal keimanan, ketaatan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Kelima, kesatuan amali. Kerja-kerja yang rapi, kerja-kerja terevaluasi, kerja-kerja yang terkordinasi, dan kerja-kerja yang teradministrasi. Hakikatnya, sebuah gerakan dakwah adalah gerakan yang mendunia, gerakan yang menginternasional, atau sebuah gelombang besar yang akan membersihkan dan menyapu sampah-sampah kemungkaran yang bertebaran di muka bumi ini. Jadi seseorang yang telah menetapkan dirinya sebagai dai ilallah wajib memahami bahwa dakwah tidak akan sukses dan berhasil jika ia lakukan hanya seorang diri. Akhirnya, ia hanya akan mendapati kelelahan demi kelelahan, kebosanan dalam kebosanan, dan kejenuhan demi kejenuhan. Seruan dakwahnya mandul, tidak produktif.

Jika seorang dai merasa nyaman dalam kesendiriannya, maka pasti ada yang salah dalam pemahamannya terhadap Islam dan dakwah. Dakwah dalam kesendirian hanya akan membuat hebat diri sendiri, tenar dan populer sendiri, dan tak memberikan hasil secara signifikan dalam perubahan masyarakat ke arah perbaikan hakiki. Kerana, ia tak pernah tahu dengan alat ukur (indikator) dakwah, tak pernah ada evaluasi, tak pernah ada administrasi, juga tak pernah ada kordinasi. Yang seharusnya ia sadari ia harus melakukan kordinasi dibawah payung gerakan dakwah yang lebih besar.

Keenam, kesatuan tarbawi. Kesatuan tarbawi lebih mengarah kepada bagaimana para dai menyiapkan generasi pelanjut untuk kesinambungan gerakan dakwahnya. Disinilah kemudian menjadi penting agenda rencana aksi duplikasi binaan halaqah, rencana aksi untuk mutarabbi yang qawwi, rencana aksi peningkatan kualitas mutarabbi menjadi kader dakwah hakiki, dan rencana aksi agar para dai saling mencintai kerana Ilahi. Lebih jauh juga, agenda rencana aksi meriayah (memelihara dan membina) wilayah yang dihadonahi, rencana aksi penetrasi di berbagai lini, rencana aksi ekspansi multidimensi, dan rencana aksi peningkatan quantiti dan qualiti. Inilah gerakan dakwah yang tersatu dengan baik, berjalan, dan bergerak rapi berkesinambungan, dengan menyiapkan kerja-kerja pengkaderan dengan baik.

Sebuah gerakan dakwah, yang memiliki ihtimam (perhatian) sungguh-sungguh dalam menyiapkan calon-calon dai baru yang siap berjihad meneruskan perjuangan mulia ini, melanjutkan estafet dakwah dengan tuntas, dan menyempurnakan bangunan dakwah yang sudah dibinanya selama ini hingga mendekati kesempurnaan. Inilah gerakan dakwah dengan generasi-generasi baru yang terkaderisasi.

Jadi, ikhwah fillah, dalam halaqah tarbiyah ada kesatuan hati, ada kesatuan ruhi, ada kesatuan fikri, ada kesatuan jasadi, ada kesatuan amali, dan ada kesatuan tarbawi. Maka, hindari untuk menyendiri. Tak hadir liqo berturut-turut beberapa kali, apalagi tanpa informasi tanpa uzur syar’i. Halaqah bukanlah majelis taklim dimana “…kau datang dan pergi sesuka hatimu…”. Tapi, kita harus selalu dan selalu bersatu. Harus selalu dan selalu terkoordinasi. Hingga dakwah ini benar-benar mencapai ustadziyatul ‘alam.

Sesibuk apapun kita, hadirlah. Sekuat janji, apapun kondisi dihadapi. Sekuat hati, selalu dalam lingkar jama’i. Itulah amal jihadi. Benarlah sinyalamen Ali sahabat Nabi, “betapapun alhaq, tapi tak tersatu akan mudah dikalahkan kebathilan yang tersusun rapi”. Dan, benarlah manhaj dakwah ini, yang meyakini dan menetapkan bahwa halaqah tarbiyah merupakan interaksi yang paling ideal antara pendakwah-objek dakwah, dai-mad’u, dan murabbi-mutarabbi.

Jadikanlah halaqah antum menjadi pelopor halaqah muntijah. Terdepan dalam berbagai kebaikan, produktif dalam aksi kaderisasi, kontributif dalam amal jihadi, dan solutif dalam amal-amal tarbawi. Semoga…

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *